MANUSIA DAN WAKTU : Memorizing By Heart

0

Manusia-Waktu

Galeri Seni Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Fakultas Seni Media Rekam mengundang bapak/ibu/saudara untuk menghadiri pembukaan pameran dan penayangan seni media rekam

MANUSIA DAN WAKTU : Memorizing By Heart

26 Desember 2014 – 3 Januari 2015

Jogja Gallery

Jalan Pekapalan No. 7, Alun-alun Utara Yogyakarta

 

Pameran dibuka tanggal 26 Desember 2014, pukul 19.00 WIB

 

Catatan Kuratorial Pameran Seni Media Rekam

Manusia dan Waktu: Memorizing by Heart

Gregorius Arya Dipayana & Irwandi

 

Manusia dan Waktu: Memorizing by Heart yang merupakan tajuk dari pameran seni media rekam, akan menghadirkan karya-karya yang dapat menjadi penanda akan sebuah waktu dari manusia (kreator) itu sendiri. Manusia merupakan makhluk dengan derajat tertinggi di antara makhluk-makhluk lain yang ada di muka bumi ini.

Manusia dibekali dengan akal, pikiran, budi pekerti, dan rasa yang berbeda-beda. Tentunya hal itu membuat manusia menjadi lebih kaya, salah satunya secara pemikiran dan ide-ide kreatif yang muncul dari hasil sebuah pemikiran. Berbekal kemampuan kreativitas pula manusia dapat mengolah ide tersebut menjadi sebuah produk yang dapat dinikmati oleh manusia lain. Manusia hidup, berpikir, dan berkreasi tidak akan pernah bisa lepas dari rangkaian peristiwa dan keadaan yang sedang berlangsung atau dengan kata lain adalah waktu.

Manusia dan waktu akan selalu bergerak, saling beriringan, keduanya akan saling berkaitan, bayangan masa lalu (kenangan), saat ini (realitas), dan masa mendatang akan saling terhubung dan akan membentuk manusia dan penandanya.

 

Manusia dan Waktu dalam Fotografi

Bisakah fotografi dipisahkan dengan manusia dan waktu? Rasanya tak mungkin. Semua aspek kehidupan tak terkecuali seni, terkurung dalam waktu. Kita pun sepakat, tak ada manusia, maka tak ada seni, karena seni adalah produk manusia yang (lazimnya) indah.

Tanpa bermaksud mengesampingkan aspek lain, khusus dalam fotografi, manusia dan waktu sangatlah penting. Ingatkah kita pada adagium the man behind the gun, yang sering dipakai untuk menekankan betapa penting peran seorang pemotret? Sementara dalam perbendaharaan teknis fotografi, dikenal istilah exposure yang merupakan kombinasi antara durasi dan instensitas cahaya yang menyinari bidang peka cahaya.

Belum lagi adanya keharusan bagi seorang pemotret untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk ‘menembak’ objek pemotretannya. Ditambah lagi bila dilihat dari sisi sifat dan fungsinya, selembar foto menjadi indeks atas sekian banyak peristiwa di muka bumi. Kita tentu kenal istilah mengabadikan momen dan membekukan gerak. Demikianlah kiranya kaitan antara fotografi, manusia, dan waktu.

 

Pameran kali ini, diikuti oleh beberapa elemen masyarakat fotografi yang ada dan terkait dengan Program Studi Fotografi, FSMR, ISI Yogyakarta. Mereka terdiri dari civitas akademika yang meliputi mahasiswa, komunitas mahasiswa (KOPPI dan Terasharing), dan dosen; sejumlah alumnus terpilih termasuk MES 56 yang sebagian besar anggotanya merupakan alumnus; mitra ISI Yogyakarta yang tergabung dalam BKS PTSI;   serta salah satu mitra ISI Yogyakarta dari luar negeri, yaitu UiTM Malaysia.

Terdapat puluhan karya fotografi yang menjadi ungkapan para peserta pameran dalam menerjemahkan tema manusia dan waktu. Peserta diberi ruang untuk mengolah dan memvisualisasikan tema tersebut, baik secara harfiah maupun nonharfiah. Boleh dikatakan, batasan yang ditetapkan dalam tema yang ditawarkan sangatlah longgar.

Ini dimaksudkan agar pameran ini dapat menghasilkan karya-karya yang kaya, baik dari segi teknis, subject matter, dan penyajiannya. Karena itulah, karya-karya fotografi yang muncul dalam pameran ini sangat beragam dan menunjukkan tiga kecenderungan.

Pertama, manusia dan waktu dipandang sebagai entitas inheren dalam fotografi. Kecenderungan ini tampak dalam karya-karya yang tidak secara gamblang memuat waktu sebagai subjek dalam foto. Kecenderungan ini dapat dilihat dalam karya Gatari Surya Kusuma berjudul “Second Honeymoon” dan karya Danang Dwi Argo yang berjudul “Akulturasi”.

Namun, setidaknya karya tersebut dibuat oleh seorang pemotret guna menunjukkan perubahan manusia akibat suatu perjalanan waktu. Judul karya menjadi kunci dalam mengajak pemirsa agar mengaitkan foto dengan manusia dan waktu. Kedua, manusia dan waktu ditampilkan secara ‘nyata’ dan bersamaan.

Foto semacam ini menawarkan momen-momen yang dihentikan sejenak. Contohnya, tampak dalam karya Soeprapto Soedjono yang berjudul “It’s TIME to Sit or It’s TIME to Stand Up..?” Ketiga, para peserta pameran memaknai fotografi sebagai ‘kawan’ setia yang merekam indeks-indeks kehidupan manusia: fotografi meninggalkan jejak-jejak peristiwa dan perbuatan manusia pada masa lalu. Karya Surisman Marah, “Tergerus Waktu”, dan karya Ida Bagus Chandrayana “Tak Lekang oleh Waktu” boleh dijadikan contoh.

 

Catatan singkat mengenai tiga kecenderungan karya-karya fotografi yang ditampilkan dalam pameran ini menunjukkan berbagai upaya yang dilakukan oleh para peserta pameran untuk lebih kreatif dalam menerjemahkan tema “Manusia dan Waktu”. Melalui proses olah pikir, rasa, dan keterampilan, para peserta tampak berhasil menawarkan kekayaan fotografi kepada khalayak.

 

Manusia dan Waktu dalam Karya Film dan Televisi

Wacana manusia dan waktu dalam medium gambar bergerak (film dan televisi) tentunya menjadi aspek utama yang tidak bisa lepas sewaktu manusia itu berkarya. Manusia menjadi subjek sekaligus objek dalam menciptakan karya itu sendiri, sedangkan waktu berkaitan erat dengan penentuan setting dan timming dalam merekam dalam mengarahkan subjek atau objeknya. Ketika kedua hal tersebut berpadu maka akan memunculkan suatu rasa dari pengalaman manusia yang berjalan beriringan dengan waktu.

 

“Percakapan Ini”, sebuah film fiksi pendek karya Ifa Isfansyah (alumnus Jurusan Televisi, FSMR, ISI Yogyakarta) yang bercerita tentang sebuah percakapan panjang antara Omen, seorang koki, dan Nuri, tetangganya. Sebuah pembicaraan tentang hubungan, pilihan, dan rasa keibuan. Percakapan tak berawal dan berakhir. Sebuah karya yang menampilkan interaksi antara dua manusia dalam satu waktu yang membicarakan masa lalu dan masa depan. Karya ini cukup menarik karena memunculkan rasa-rasa yang canggung dan aneh karena sifat dan perilaku manusia tersebut.

 

“nDudah”, film dokumenter karya F. Tedjo Baskoro (alumnus Jurusan Televisi, FSMR, ISI Yogyakarta) dan Fx. Harsono yang melakukan penelusuran tentang kasus pembunuhan orang-orang Tionghoa pada tahun 1947 – 1948. Karya ini cukup jelas berbicara tentang rasa kehilangan, rasa kekejaman, bagaimana manusia dan waktu dapat berbaur. Pembuat film mengajak kita untuk kembali ke waktu lalu, melihat kembali apa yang terjadi pada masa itu.

 

“Tumiran”, film dokumenter karya Vicky Hendri Kurniawan memaparkan manusia yang diburu waktu untuk kembali ke desanya untuk membantu masyarakat di sana menurunkan hujan. Sebuah interaksi antara manusia dengan manusia lain yang berbenturan dengan kehidupan sosialnya, ketika waktu sekarang (saat ini) akan menentukan apa yang terjadi pada masa mendatang. Kenyataan tidak sama dengan harapan, namun manusia hanya bisa berusaha hingga waktu menentukan hasilnya.

 

“Not for Sale”, sebuah film fiksi pendek karya Fietra Rey yang mengisahkan kehidupan masyarakat menengah ke bawah yang tertindas penguasa. Dari film ini kita dapat melihat interaksi manusia dalam kelompok yang berseteru dengan kelompok lain yang lebih kuat dengan background waktu saat ini, yang merepresentasikan hal-hal yang mungkin masih terjadi di kota-kota kecil.

 

Selain karya mahasiswa dan alumni Jurusan Televisi, FSMR, ISI Yogyakarta, pameran ini juga melibatkan Program Studi D-3 Animasi dengan karya-karya berupa cerita animasi pendek dan game yang dikemas secara kreatif dan segar. Karya-karya tersebut merupakan gambaran besar dari karya-karya yang akan tampil dalam pameran seni media rekam kali ini. Karya tersebut dapat merepresentasikan bahwa karya seni media rekam tidak lepas dari unsur manusia dan waktu. Keduanya saling berkaitan dan tidak bisa lepas baik secara teknis, kreativitas, dan konseptual.

 

 

 

 

Share.

Leave A Reply