Liputan Workshop Foto & Sosialisasi LFI 2014 Pangkalan Bun

0

Rangkaian workshop foto sosialisasi LFI 2014 kali ini tiba di kota Pangkalan Bun. Workshop foto sosialisasi LFI 2014 berlangsung tanggal 25 Mei 2014 bertempat di hotel Arsela kota Pangkalan Bun.

LFI 2014

Seluruh narasumber dan perwakilan dari Kemenparekraf

Acara workshop foto sosialisasi LFI 2014 disambut antusias oleh komunitas fotografer Kalimantan Tengah terutama yang berdomisili di Pangkalan Bun sebagai tuan rumahnya. Workshop fotografi seperti ini sangat jarang diadakan di Kalimantan Tengah, maka dari itu antusiasnya menyambut acara kali ini terlihat sangat luar biasa.

Bambang Wijanarko selaku Kasi Kreasi & Produksi Fotografi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang memberikan sambutan acara menjelaskan sejarah pelaksanaan Lomba Foto Indonesia 2014. Bambang Wijanarko juga menjelaskan sistem LFI 2014 yang berbeda dengan lomba foto Indonesia 2014. Dengan menggunakan sistem batasan domisili, LFI 2014 bertujuan untuk meningkatkan potensi fotografer disetiap daerah agar bisa ikut berpartisipasi mengirimkan karya pada Lomba Foto Indonesia.

 

Eka Taurus memberikan sambutan dan peresmian acara.

Eka Taurus memberikan sambutan dan peresmian acara.

Selanjutnya, Eka Taurus Susanto, Perwakilan dari Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kota Waringin Barat memberikan sambutan sekaligus membuka acara workshop foto dan sosialisasi LFI 2014.

Eka Taurus Susanto menjelaskan kegiatan seperti ini diharapkan bisa menggerakan perekonomian kota, dengan tingkat kunjungan wisata yang akan tentunya diharapkan juga nantinya bisa mengajak teman-teman yang lain untuk bisa mengenal dan datang ke obyek wisata di Kalimantan Tengah. Peran fotografer juga diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi perkembangan wisata didaerahnya.

 

Irma Chantily memberikan materi workshop foto

Irma Chantily memberikan materi workshop foto

Sesi pertama workshop foto sosialisasi LFI 2014 dibuka oleh Irma Chantily. Irma yang juga sebagai Juri #LFI2014 memberikan materi tentang sejarah fotografi di Indonesia. Irma memberikan wacana dan referensi fotografi yang bersifat non teknis.

Menurutnya, sejarah fotografi di Indonesia agak sulit karena beragam, tapi sangat penting. Fotografi di Indonesia masuk pada tahun 1841. Kerajaan Belanda sadar fotografi punya kekuatan untuk merekam realitas dan merekam informasi yang bisa berguna untuk melanggengkan kekuasaan.

Dalam presentasinya, Irma juga memberikan beberapa contoh karya foto dari dalam dan luar negeri. Beberapa karya fotografer dari Indonesia juga disajikan sebagai ilustrasi perkembangan fotografi dari masa ke masa. Irma juga memberikan beberapa tips praktis dalam mengeksplorasi daerah Pangkalan Bun dan sekitarnya untuk direkam menjadi sebuah foto yang bisa dikirimkan untuk mengikuti Lomba Foto Indonesia 2014.

Purwo Subagiyo Memberikan materi workshop foto

Purwo Subagiyo Memberikan materi workshop foto

 

Selanjutnya Purwo Subagiyo sebagai narasumber kedua dalam acara workshop fotografi dan sosialisasi LFI 2014 memberikan pengalamannya dalam mendokumentasikan foto ketika sedang melakukan perjalanan. Menurutnya, fotografi harus bisa menimbulkan rasa dan “emosi”. Untuk itu diperlukan beberapa persiapan dan pendekatan termasuk dalam hal mengeksekusi sebuah foto agar bisa merekam kedalaman rasa dengan baik.

Agatha Bunanta memberikan materi workshop foto

Agatha Bunanta memberikan materi workshop foto

Agatha Bunanta yang menjadi ketua juri Lomba Foto Indonesia 2014 memberikan persfektif tentang fotografi kepada para peserta yang terlihat antusias siang itu. Agatha dalam slide pembuka “menantang” peserta untuk memberikan opini dan persepsinya atas ilustrasi gambar yang disajikan. Berbicara mengenai lomba foto, foto dalam LFI 2014 harus sangat kuat. Konten, rasa dan hasil foto itu menjadi sangat penting. Memotret harus dengan perasaan, dan penuh semangat. Karena itu adalah hasil yang menentukan kualitas hasil foto.

Rasa itu akan bisa dituangkan dalam sebuah foto yang dilihat orang. Sehingga perasaan itu bisa sampai ke orang lain. Meskipun perasaan yang ingin disampaikan belum tentu bisa disampaikan kepada orang lain, itu akan menjadi tantangan tersendiri. Memotretlah sekarang juga, kesimpulan dari Agatha Bunanta menjadi penegas sesi workshop foto ke 3. Cahaya bisa berubah, momen berubah dan juga tempat. Maka dari itu penting bagi setiap fotografer untuk bisa mendokumentasikan foto dengan baik.

Hunting Foto Bersama di Sungai Arut

Hunting Foto Bersama di Sungai Arut

 

Foto bersama seluruh peserta

Foto bersama seluruh peserta

 

Sesi sore hari dilanjutkan dengan melakukan hunting foto bersama ke Sungai Arut. Peserta sangat antusias dan bisa belajar langsung dengan bertanya kepada narasumber. Malam sebagai penutup diadakan sesi bedah foto dan diskusi lepas bersama komunitas fotografer Pangkalan Bun.

Rizaldi mendapatkan apresiasi dari Agatha Bunanta

Rizaldi mendapatkan apresiasi dari Agatha Bunanta

Sebagai penenang bedah foto yaitu Rizaldi yang masih berstatus sebagai pelajar. Mendapatkan apresisasi langsung dari Agatha Bunanta dan berhak atas hadiah buku fotografi.

Share.

Leave A Reply