Estetika Dalam Fotografi Estetik

0

Oleh: Moch. Abdul Rahman (Jurusan Seni dan Desain Fak. Sastra Universitas Negeri Malang)

Ide cemerlang Leonardo da Vinci atau Aristoteles ternyata tidak sia-sia setelah mewacanakan prinsip cahaya serta bayang- an dari fenomena alam sebagai awal ditemukannya teknologi fotografi. Istilah fotografi diambil dari bahasa Yunani yang ber- arti drawing with light, secara berangsurangsur dikembangkan hingga hadir teknologi dunia fotografi yang canggih. Perkem- bangan teknologi fotografi yang bermula dari kamera kamar gelap (dark room) yang dalam bahasa Latin disebut obcura tanpa berhenti disempurnakan. Penyempurnaan fotografi secara praktis kali pertama ditemukannya kamera obscura oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis tahun 1826, teknologi cetak fotografi pada logam oleh Louis Jacques Mandé Daguerre di Prancis tahun 1787-1851, penemuan formula kimia untuk bahan pemrosesan negatif film oleh William Henry Fox Talbot di Inggris tahun 1800-1877, hingga eksperimen pertama foto berwarna oleh J.C Maxwell pada tahun 1861 yang menciptakan karya foto berwarna melalui pita sintetis tartan ribbon melalui penggabungan filter merah, hijau, dan biru (teknologi warna RGB) yang sekarang dikenal dengan film negatif yang lebih umum disebut klise (Rosenblum, 1984:25).

Microsoft Word - 6 abdurrahman _sen_.docx
Gb. Fotografi karya William Henry Fox Talbot tahun 1840

Melalui tiga prinsip, yaitu cahaya, optik, dan kimia (light, optics, and chemistry) maka proses fotografi dapat bekerja secara maksimal. Light atau cahaya merupa- kan syarat utama bekerjanya prinsip fotografi, tanpa cahaya tidak mungkin sesuatu objek dapat terlihat oleh mata. Optics yang diartikan sebagai serangkaian sistem lensa adalah sarana untuk proses menangkap objek yang terlihat oleh mata. Kemudian, chemistry dalam dunia fotografi diartikan sebagai proses kimiawi guna memunculkan gambar atau proses cetak/cuci-cetak film/ print processing.

Kurang lebih setelah satu setengah abad dikembangkan dan diperkenalkan dunia fotografi tentu memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi gerak kebudayaan manusia modern sepanjang abad ke-20. Dunia fotografi merupakan revolusi dalam cara pandang manusia untuk menerjemahkan sesuatu melalui bahasa visual (the way of vision). Fotografi tidak hanya sekadar menciptakan citraan yang begitu akurat, rinci, dan objektif dalam mengapresiasikan realitas. Namun, fotografi juga memberikan dampak yang semakin luas. Tiap hasil citraan fotografi bisa dilipatgandakan tanpa batasan sesuai kebutuhan dan keinginan melalui print on demand. Seiring dengan pengembangan reproduksi mekanik yang semakin canggih, penyebarluasan citraan fotografi semakin luas dan lebih bebas. Fotografi menjadi media seni (estetika) dan fungsional keteknisan yang dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat, seperti media massa dan penerbitan penerbitan buku. Fotografi menjadi icon baru dari kultur modern pada ranah global: demokratisasi dunia citraan (seperti sebelum hadirnya teknologi fotografi, seni visual/seni lukis hanya bisa dimiliki oleh kelas tertentu dalam hierarki masyarakat).

Fotografi memiliki sifat objektif, menjadikan citraan fotografi sebagai pilar untuk menguak kebenaran pada berbagai disiplin ilmu misalnya sosial, politik, seni, sains, dan teknologi. Ranah dunia fotografi termasuk juga dalam pengembangan film, video, dan televisi (cinematography), yang merupakan sistem informasi bagi segala misteri manusia, sampai hal yang paling tersembunyi tidak kasat oleh mata. Berbagai macam persoalan dapat diamati, dianalisis, dipelajari, dan dikuak tabirnya. Fotografi bagi manusia modern adalah sumber pengetahuan yang merupakan sumber kekuatan kultur modern.

Fotografi menghasilkan tata bahasa baru berupa visual language, dan yang paling penting adalah kemampuan membentuk etika cara pandang baru terhadap suatu kenyataan. Kehadirannya ada di mana-mana (omnipresence) telah dicerap dan mengendap di dalam benak tiap manusia modern sebagai sebuah antologi citra-citraan. Ungkapan dari salah satu sastrawan yang menganggap bahwa era fotografi dalam reproduksi mekanik telah menghasilkan museum-museum tanpa dinding khayal. Fotografi telah melebur dalam mental sebagai rekonstruksi pengalaman. Bila pada masyarakat primitif mengusir roh jahat (exor- cism) dengan topeng-topengnya, masyarakat borjuis memiliki cermin, maka manusia modern punya fotografi. Fotografi bagi masyarakat modern berarti jimat yang ampuh untuk menyibak kebenaran terhadap suatu kenyataan.

ENTITAS SENI VISUAL
Secara umum, pemahaman estetika seni visual yang berhubungan dengan rupa adalah pancaran nilai-nilai yang indah, tecermin dari sosok karya rupa menyeluruh dan memberikan kualitas tertentu pada impresi bentuk. Munculnya karya fotografi sebagai bentuk karya seni visual dua dimensi (2D) menjadikan khasanah baru keberagaman seni visual. Pada awal kehadiran media seni visual yang baru itu sempat membuat dunia seni lukis pada masanya dinyatakan secara sarkastis oleh pelukis Prancis De la Roche bahwa from today painting is dead (Turner, 1987:16). Pandangan tersebut merupakan suatu sikap kekhawatiran yang cukup beralasan sebab hadirnya teknologi fotografi secara teknik relatif lebih cepat dan praktis dalam proses menghasilkan karyanya serta memiliki nilai akurasi reproduksi yang lebih tinggi serta fleksibilitas ukuran pembesaran yang dita- warkan yang dianggap lebih unggul bila dibandingkan dengan bentuk seni rupa/ visual lainnya.

Seni visual yang relatif baru itu ternyata membawa karakteristik yang unik. Awal kemunculannya sempat tidak diakui keha- dirannya sebagai karya seni karena feno- mena proses yang dinilai lebih bernuansa mechanical tidak memerlukan kecakapan, keahlian, dan ilmu yang tinggi dalam menciptakan karyanya, that photography was merely mechanical and did not require the training that art did (Pennel, 1981:210) dan proses penciptaannya tidak sepenuhnya dibuat dengan tangan manusia because photography is not hand-work (Alfred Stieglitz, 1980: 163).

Estetika Fotografi
Fotografi sebagai salah satu domain seni visual tidak terlepas dari nilai-nilai dan kaidah estetika yang berlaku, yaitu setiap genre memiliki nilai dan kosa estetika maka fotografi dengan parsial genre-nya juga tidak terlepas juga dengan kosa estetikanya. Setiap bentuk karya yang dihasilkan dari fotografi tidak lain mempunyai tujuan serta konsep penciptaan yang bermula dari ide dasar yang berkembang menjadi implementasi praksis dengan dukungan peralatan dan teknik ungkap melalui bahasa visual. Lebih jauh, melalui eksperimen dan eksplorasi terhadap target bidik (expose) serta proses penghadirannya hingga menjadi subjek (subject matter) karya fotografi.

Tidak menutup kemungkinan bila objek yang dijadikan subjek (subject matter) perlu diambil berulang kali sebagai alternatif dengan eksperimentasi dari berbagai sudut pandang (angle) maupun varian optik beru- pa lensa pendukung sekaligus perlakuan eksplorasi pencahayaan yang memadai (lighting exposure). Ditunjang dengan kepe- kaan dan keterampilan memainkan fasilitas instrumentasi yang ada pada kamera dan peralatan, tujuannya tidak lain adalah men- capai berbagai varian alternatif tampilan yang memiliki nilai estetika sehingga tampilan yang dihasilkan fotografi sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan. Tentunya, masalah itu terkait erat dengan masalah ideasional berupa tataran konsep terhadap ide-ide fotografi yang dihasilkan serta tataran aspek teknikal berupa permainan secara keteknisan untuk mewujudkan ide-ide tersebut.

Tataran Ideational
Makna ideational tentang wacana fotografi berkembang dari kesadaran manusia sebagai makhluk yang sempurna yang memiliki akal budi serta talenta untuk merekayasa alam lingkungan dalam kehidupannya. Masalah itu menjadi alasan yang kuat untuk memungkinkan tetap survive dan menciptakan berbagai karya teknologi bagi kehidupan sebagai tanda eksistensinya di dunia. Pada konteks fotografi, hal itu terlihat bahwa bagaimana manusia menyikapi setiap fenomena alam (natural phenomenon), dengan menemukan sesuatu untuk memecahkan dan mengungkapnya melalui konsep-konsep, teori-teori, dan wacana hingga formulasi tentang fotografi. Melalui dasar itu, selanjutnya disempurnakan dan dikembangkan oleh generasi penerus seba- gai untaian chronicles yang tiada henti tentang berbagai kejadian yang memiliki nilai historis.

Ide awal fotografi pada mulanya digu- nakan sebagai alat bantu menggambar , menyiratkan asal-usul kamera obscura yang berevolusi menjadi alat modern yang berdiri sendiri kemudian sebagai entitas seni dalam wacana seni visual 2D. Fungsi fotografi dan berkembangnya lebih jauh sebagai medium pengabdian fenomena alam yang memiliki nilai reproduksi-representasinya yang di- anggap revolusif dengan akurasi yang tepercaya. Namun, kehadirannya menghabiskan waktu berabad dalam konteks inovasinya yang juga melibatkan berbagai disiplin bidang teknologi machinal, kimia, fisika, dan implementasi kreatif yang melibatkan nilai estetis. Proses itu masih terus berjalan hingga saat ini dengan inovasiinovasi baru seperti yang dianggap mutakhir dengan hadirnya visual still atau motion, melalui format analogue maupun digital.

Fotografi menjadi wadah untuk berolah kreatif bagi fotografer yang ingin menoreh- kan sekaligus menyampaikan pesan sesuai dengan gaya pribadinya melalui karya fotografi. Teknik ekspresi melalui frame berupa angle tentang sudut pandang adalah proses untuk menyampaikan pesan sesuai dengan tujuannya. Hal itu seperti yang dilakukan oleh fotografer sekarang ini, setiap fotografer berusaha memiliki jati diri masing-masing sesuai dengan keahliannya. Termasuk di dalamnya, muncul jati diri adanya zeitgeist sesuai tuntutan zaman.

Jati diri serta keahlian masing-masing itu bisa dilihat seperti halnya yang dilakukan Henri Cartier Bresson dengan konsep estetisnya decisive moment yang mengutamakan indahnya nilai kesesaatan yang estetis suatu peristiwa. Seperti yang dipublikasikan dari Graham Clarke dalam pernyataannya yang membahas konsep decisive momentnya Henri Cartier Bresson; In photographic term it seeks the moment for a particular subject, not just in term of its appearance at the moment, but in relation to its meaning within the context (Graham Clarke, 1997:207), atau Darwis Triady dengan keanggunan model-model fotografinya yang berorientasi kemewahan yang eksklusif untuk pendukung visual suatu promosi/iklan produk komersial. Semua fotografer berusaha mengemas karya fotografi menggunakan konsep dan ide brilian yang ditunjang dengan berbagai sentuhan dan olahan estetis dengan balutan abilitas yang mapan berdasarkan ideational- nya, pemilihan objek, atau trik-trik kreatif untuk mendukungnya. Seperti pernyataan ‘…there is one quality which all arts must posses, and that is what is termed the personal touch (Trachtenberg, 1980:135).

Tataran Technical
Pemaknaan estetika fotografi juga dipengaruhi oleh masalah teknis, yaitu aspek teknikal pada peralatan maupun praxis-implementative dalam pemanfaatan dan penggunaannya untuk mendapatkan hasil fotografi yang akan disampaikan. Adapun masalah teknikal tersebut variannya meliputi proses teknik pemotretan, proses kamar gelap berhubungan dengan cuci- cetak, dan tahap penampilan/pengemasan hasil fotografi sesuai dengan kebutuhan.

Pada teknik pemotretan yang lazim diberdayakan, misalnya pemanfaatan aperture berupa diafragma untuk memperoleh daerah ketajaman gambar yang umumnya disebut dengan depth of field atau eksplorasi camera speed atau yang lazim disebut dengan f-stop , yaitu permainan pengaturan kecepatan pembukaan daun rana kamera untuk masuknya cahaya berupa bayangan gambar ke klise pada kamera analog/seluloid, dan CCD/CMOS berupa sensor pada kamera digital. Hasil eksplorasi kecepatan itu diperoleh teknik action, yaitu berupa efek-efek gerak misalnya kesan gerak (slow action/slow motion), penghentian gerak (stop action), atau kesan kibasan (panning). Eksplorasi daerah ketajaman sempit (depth of field/d.o.f sempit misalnya) hasil gambar yang ditangkap oleh kamera akan membentuk gambar yang berkesan keruangan seperti halnya kenyataan visual saat melihat sesuatu dengan mata biasa. Objek utama akan terlihat paling fokus/tajam/jelas (focus), dan objek lainnya background/foreground terlihat kabur-/tidak fokus (out of focus). Itulah yang disebut estetika secara teknikal, yaitu menampakkan kesan sesuai dengan kebutuhan melalui pemanfaatan instrumentasi atau apparatus yang ada pada kamera fotografi.

Masih banyak lagi trik yang berkaitan dengan masalah teknikal dalam proses pemotretan untuk menghasilkan berbagai ragam imaji untuk meraih nilai estetika. Pemanfaatan sudut pengamatan/pandang (angle) tertentu bermaksud untuk menyampaikan kesan hasil foto yang unik; bird s/ frog s eye view angle, aerial photography, under-water/marine photograph, geographic photography, research photography, advertising photography, dan trik lainnya. Termasuk teknikal permainan dalam tata cahaya/pengolahan cahaya light exposure yang meliputi available light yang memberikan kesan alamiah, artificial light berupa pencahayaan buatan atau pengarahan cahaya direction light (top light, bottom light, side light, front light, back light, bounce light, bracketing, rim light). Bahkan, hingga trik pemakaian pencaha- yaan untuk memperoleh kesan cahaya yang minim untuk mencapai nilai artistik dengan pemanfaatan mode menu bulb pada kamera.

Teknik pemotretan juga terkait dengan berbagai perangkat teknis dan jenisnya. Pemilihan kamera fotografi (SLR-Single Lens Reflex, TLR-Twin Lens Reflex, Box Camera, View Camera, Instamatic Camera, Folding Camera, dll), tentunya juga dipadu dengan berbagai jenis lensa (normal-lens, tele-lens, zoom-lens, wide angle-lens, fisheye-lens, dll) serta beragam penggunaan variasi filter yang semuanya dihadirkan untuk mencapai kesan visual dalam penca- paian nilai artistik yang beragam. Secara teknikal, pengambilan gambar bidikan dikenal istilah Close Up/ CU , Medium Close Up/ MCU , Long Shoot, Zooming, dll. Semua pemanfaatan teknikal tersebut disesuaikan dengan fungsi dan tujuan masing-masing, yaitu semuanya memiliki bobot estetika. Dengan kata lain, meskipun peralatan yang tersedia cukup lengkap dan memadai serta canggih, masih tetap diperlukan operator yang memiliki talenta teknis dengan kepekaan estetis yang memadai ibarat man behind the gun saat mengimplementasikan secara praksis semua peralatan dalam menciptakan citra fotografi.

KAMERA DIGITAL
Perkembangan abad ini ditandai dengan hadirnya zaman yang disebut kultur era digital, yaitu terjadi evolusi perubahan teknologi dari media analog ke media digital. Pada era digital media pengolahan dan penyimpanan ditransformasikan dalam bentuk data biner binary data , berupa kode-kode metrik keangkaan yang bersifat vitual namun dapat menyimpan berbagai formulasi, dijalankan melalui perintah program/software berbentuk metadata komputerisasi yang menyimpan berbagai informasi akurat. Pada awalnya, formasi digital ditujukan untuk sistem komputasi (computerize) pada komputer analis analyze computer dan desktop komputer desktop publishing , namun selanjutnya berkembang pada sistem komputerisasi dunia fotografi dan video.

Fotografi digital merupakan perpanjangan dari ranah fotografi analog, bila pada fotografi analog penyimpanan gambar latent ditampung pada klise negatif film yang terbuat dari gulungan pita plastik yang dilapisi bahan kimia (celluloid), namun pada fotografi digital gambar diterima melalui sensor elektronik yang disebut CCD (Charge Coupled Device) atau CMOS (Complementary Metal Oxide Semiconductor) kemudian gambar disimpan pada virtual memori memory chip . Selanjutnya, bila pada fotografi analog/seluloid proses pemunculan gambar melalui pengembangan bayangan tersembunyi di negatif film klise dengan proses cuci-cetak (proses kamar gelap), pada fotografi digital, gambar langsung bisa dimunculkan secara komputerisasi melalui layar LCD (Liquid Crystal Display), yaitu proses memanggil kembali informasi metadata virtual yang tersimpan dalam memory, atau langsung dicetak sesuai kebutuhan dan ukuran tanpa harus melalui pemrosesan pada kamar gelap.

Sederet kelebihan yang dimiliki oleh teknologi fotografi digital dibanding foto- grafi analog, membawa kemudahan pada aplikasinya, salah satu implementasinya, yaitu pada dunia keindahan. Hadirnya fotografi sekarang ini sangat menunjang sekali bagi kultur estetis, di antaranya sebagai ilmu secara langsung tentang teknologinya atau fotografi digital diberdayakan sebagai media untuk menyampaikan informasi yang tidak meninggalkan aspek estetika. Pada zaman dahulu apabila menjelaskan suatu bidang ilmu misalnya, informasi tentang binatang, ilustrasi pendukungnya biasanya menggunakan gambaran manual dengan tangan, namun dengan hadirnya fotografi digital gambar-gambar yang asli langsung dapat diambil melalui bantuan kamera digital yang selanjutnya bisa digunakan sebagai ilustrasi visual.

Struktur fotografi digital berbeda de- ngan fotografi analog. Adapun proses kerja pada fotografi digital, yaitu perangkat lensa, perangkat sensor dengan ukuran pixel, media penyimpanan berupa memory. Lensa merupakan elemen yang tidak dapat dipi- sahkan dari kamera, apa pun jenis kamera baik analog atau digital lensa adalah bagian yang paling utama, lensa pada kamera berfungsi sebagai mata. Sensor berfungsi sebagai pengganti film/klise, yaitu menerima bayangan gambar yang ditangkap oleh lensa, semakin tinggi pixelnya mega pixelnya semakin bagus hasilnya gambarnya. Kemudian, memory adalah tempat atau media penyimpanan data gambar virtual yang diterima oleh sensor. Singkatnya, proses kerja fotografi digital, yaitu lensa menangkap objek yang diteruskan ke sensor kemudian sensor memindahkan gambar yang diterima ke memory. Adapun media penyimpanan yang berupa memori memory card/secure disk sangat banyak jenisnya tergantung jenis dan merek kamera digital yang dipakai (misalnya CF: Compact Flash, MMC: Multi Media Card, Memory Stick, SD card, dll).

Bila pada fotografi analog penyimpanan gambar direkam pada klise negatif film dengan berbagai format ukuran, dalam fotografi digital, data gambar yang diterima oleh sensor juga direkam dalam berbagai format ekstensi file extension pada umum- nya jenis ekstensi yang dipakai, yaitu JPEG (Joint Photographic Experts Group), BMP (Bitmap), TIFF, RAW. Penggunaan jenis ekstensi file format itu tergantung kebutuhan, apabila hasil pemotretan akan dicetak atau direproduksi dengan ukuran besar maka yang dipakai adalah jenis TIFF atau RAW, bisa juga ekstensi JPEG dengan mengatur untuk kualitas gambar yang terbaik. Gambar yang telah direkam melalui sensor serta disimpan pada memory kemudian bisa langsung dicetak, atau melalui proses penyuntingan editing gambar dengan komputer menggunakan perangkat olah gambar software, misalnya Adobe Photoshop, Paint Shop Pro, Photo Styler, Corel Photopaint, Ulead Photo Studio, ACDSee, CPAC Imaging Pro, dll. Proses pengolah melalui software itu umumnya disebut dengan digital imaging. Melalui proses editing menggunakan software gambar dapat diubah sesuai dengan keinginan, misalnya yang cantik jadi jelek, yang jelek jadi cantik. Dalam dunia fotografi digital, semua serba mungkin, artinya gambar dapat diolah hingga dimanipulasi. Maka jangan heran bila ada gambar foto-foto yang menghebohkan, dan kita harus mencurigai apakah itu asli atau hasil dari rekayasa digital.

Microsoft Word - 6 abdurrahman _sen_.docx
Gb. Fotografi digital dan proses aplikasinya.

SIMPULAN
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa hadirnya dunia fotografi dari manual hingga digital merupakan wacana yang panjang dalam evolusifnya. Sedangkan revolusi fotografi digital juga tidak serta merta langsung meniadakan dunia fotografi analog, namun hadirnya kemudahan pada era fotografi digital menjadi alternatif untuk dapat diaplikasikan dalam mencapai nilai-nilai estetika.

Fotografi memiliki bermacam-macam manfaat dan tujuan baik untuk dokumentasi, penelitian, maupun sebagai media dalam ranah estetika. Namun, yang perlu digarisbawahi dalam dunia fotografi proses aplikasinya untuk mencapai kosa estetika terdapat dua wacana, pertama tataran estetika pada ideational, yaitu nilai estetika yang berhubungan dengan gagasan/ide. Kedua, penggalian estetika pada tataran technical, yaitu penggalian nilai estetika melalui teknik pemotretan.

Estetika Dalam Fotografi Estetik oleh Moch. Abdul Rahman (Jurusan Seni dan Desain Fak. Sastra Universitas Negeri Malang) telah diterbitkan pada Jurnal Bahasa dan Seni, Tahun 36, Nomor 2, Agustus 2008.

Share.

About Author

Leave A Reply