Pertemuan Seni Lukis Dan Seni Fotografi

0

Oleh: Triyono Widodo | Jurusan Seni dan Desain Fak. Sastra Universitas Negeri Malang

Seni lukis dan seni fotografi merupakan bagian dari seni rupa, masing-masing sebagai seni dua dimensional. Kedua-duanya dapat dipandang sebagai dua jenis seni yang berbeda jika ditinjau dari salah satu aspeknya, misalnya media yang digunakan, kalau dalam seni lukis, media yang digunakan berupa pigmen dalam hal ini cat sedangkan dalam seni fotografi medianya cahaya. Namun, jika ditinjau dari aspek-aspek lainnya, selama proses perkembangan dalam seni lukis dan seni fotografi tampak ada aktivitas saling memengaruhi, saling memanfaatkan kelebihan masing-masing.

Dalam catatan Rawson (1988: 205) dikemukakan bahwa para pelukis sering juga sebagai fotografer. Sejak tahun 1860-an, fotografi dan seni lukis berjalan bersama- sama saling membantu, saling memengaruhi, hingga abad sekarang ini. Catatan Maria (1996: 29) menjelaskan bahwa Kusnadi (kritikus, pendidik, pelukis, fotografer Indonesia) berpendapat bahwa seni lukis dan fotografi adalah dua dunia yang menyatu, kait mengait dan hidup dalam satu napas.

Berdasarkan uraian singkat tentang seni lukis dan seni fotografi tersebut, tulisan ini diarahkan untuk mengemukakan aspek- aspek apa saja yang muncul atau yang dapat menunjukkan adanya aktivitas dan hasilnya selama proses perkembangan seni lukis dan seni fotografi yang dapat dianggap sebagai pertemuan, dalam hal ini saling membantu dan saling memengaruhi di antara keduanya.

SENI LUKIS DAN SENI FOTOGRAFI
Seni Lukis

Secara umum, yang dimaksud melukis menurut asal-usul katanya adalah to paint, yaitu menerapkan pigmen dalam hal ini mengecat atau menyapukan cat pada suatu permukaan, yang hasilnya berupa lukisan (painting) (Rathus, 1989: 89). Oleh karena itu, melukis atau seni lukis adalah aktivitas berkarya seni dengan menggunakan media pigmen atau cat yang disapukan pada bidang dua dimensional misalnya kanvas, menggunakan alat utama berupa kuas.

Soedarso (1989: 11) berpendapat bahwa seni lukis pada umumnya tergolong dalam seni murni, yaitu sebagai sarana curahan isi hati tanpa banyak dibebani dengan hal-hal lain di luarnya. Namun, ada pula seni lukis yang tergolong dalam seni terapan, misalnya seni ilustrasi dan seni lukis dinding.

Seni Fotografi

Worobiec (2003:90) mengemukakan bahwa kata fotografi berarti menggambar atau melukis dengan cahaya, dan sebenarnya semua fotografi dapat dilihat sebagai kegiatan melukis dengan cahaya. Dari pendapat tersebut, dapat ditarik suatu pengertian bahwa, aktivitas berkarya fotografi pada dasarnya adalah kegiatan berkarya seni dengan menggunakan media yang berwujud cahaya yang direkam pada suatu permukaan yang peka cahaya, dengan alat berupa lensa yang berada di dalam ruang kedap cahaya yaitu kamera. Oleh karena hasil rekaman tersebut dicetak pada permukaan dua dimensional, karya seni fotografi dapat digolongkan ke dalam karya seni rupa dua dimensi.

Jika ditinjau dari fungsinya, fotografi ada yang dapat dimasukkan ke dalam seni murni dan ada pula sebagai seni terapan. Seni fotografi sebagai seni murni karena karya tersebut diciptakan sebagai sarana curahan isi hati semata tanpa dibebani hal- hal lain di luarnya. Fotografi sebagai seni murni dikemukakan oleh Soedjono (2006:27) bahwa sebuah fotografi yang dirancang dengan konsep tertentu dengan memilih objek foto yang terpilih dan yang diproses dan dihadirkan bagi kepentingan si pemotretnya sebagai luapan ekspresi artistik dirinya maka karya tersebut bisa menjadi sebuah karya fotografi ekspresi. Dalam hal ini, karya foto tersebut dimaknakan sebagai suatu medium ekspresi yang menampilkan jati diri si pemotretnya dalam proses berkesenian penciptaan karya fotografi seni. Karya fotografi yang diciptakannya lebih merupakan karya seni murni fotografi (fine art photography) karena bentuk penampilannya yang menitikberatkan pada nilai ekspresif-estetis.

Dalam aktivitas fotografi, dikenal adanya istilah fotografi seni, Kusnadi berpendapat bahwa (dalam Dermawan, 1994: 17) berpendapat, bahwa fotografi seni merupakan hasil pengamatan fotografer me- ngenai segala sesuatu yang dipandangnya berharga untuk diabadikan secara estetis, ekspresif, dan visual dengan wawasan pemotret sebagai ucapan seni. Hasil fotografi dalam fotografi seni merupakan media penyampaian dari penglihatan yang cermat serta dalam dari seseorang pemotret sebagai seniman. Dari penjelasan tersebut, fotografi seni merupakan aktivitas berkarya foto yang lebih menekankan pada pengungkapan rasa seni semata atau cenderung sebagai seni murni.
Sedangkan seni fotografi sebagai seni terapan, yaitu berfungsi sebagai alat bantu merekam, menjelaskan secara cepat dan akurat terhadap kegiatan atau bidang yang memerlukannya, seperti dikemukakan oleh Soelarko (tanpa tahun: xi) bahwa fungsi fotografi antara lain sebagai identitas pribadi misalnya pasfoto, rekaman perkawinan, rekaman barang bukti di kepolisian, pengadilan, rekaman mengenai organ tubuh di bidang kedokteran, dan sebagainya.

Pertemuan Penggunaan Media dan Teknik, Istilah dan Corak dalam Seni Lukis dan Seni Fotografi

Berdasarkan penjelasan singkat tentang seni lukis dan seni fotografi tersebut, berikut dikemukakan beberapa aspek yang menunjukkan adanya aktivitas dan hasilnya selama proses perkembangan seni lukis dan
seni fotografi yang dapat dianggap sebagai pertemuan di antara keduanya, antara lain yaitu aspek penggunaan media dan teknik, istilah dan corak.

Maksud pertemuan penggunaan media dan teknik, istilah dan corak dalam tulisan ini untuk menunjukkan adanya aktivitas saling bertukar, saling memanfaatkan kelebihan masing-masing dalam penggunaan media dan teknik, istilah dan corak dalam seni lukis untuk seni fotografi dan sebaliknya, yaitu teknik, istilah dan corak dalam seni fotografi untuk seni lukis dalam proses perkembangannya.

Penggunaan Media Kanvas dalam Seni Lukis untuk Seni Fotografi

Maksud media dalam hal ini adalah tempat melekatnya cat pada suatu permukaan pada seni lukis, dan tempat direkam atau dicetaknya bayangan yang terbentuk oleh lensa karena cahaya pada suatu permukaan yang peka cahaya pada seni fotografi.
Dalam proses perkembangan seni fotografi, ada berbagai upaya untuk tidak saja dapat menjaga kekuatan atau keawetan hasil cetaknya, tetapi juga menambah nilai artistiknya, salah satu upaya yang ada antara lain dengan menggunakan kanvas sebagai medianya, di mana kanvas lazimnya untuk media pada seni lukis. Soelarko (tanpa tahun: 85) mengemukakan bahwa foto warna dapat juga dicetak di atas kanvas dengan menggunakan alat khusus untuk mengepres dan melekatkan foto warna di atas kertas pada kanvas sehingga hasilnya menyerupai lukisan cat minyak. Oleh karena itu, muncullah cetak foto di atas kanvas dengan harapan agar objek-objek yang difoto setelah dicetak hasilnya seolah-olah tampak dilukis di atas kanvas menggunakan cat minyak.

Penggunaan Media Cat dalam Seni Lukis untuk Seni Fotografi

Dalam seni fotografi yang menggunakan media campuran (mixed-media), banyak fotografer biasa menggunakan teknik montage yang digabungkan dengan teknik air- brush, dan mewarnainya dengan kuas, (Langford, 1982: 378). Demikian pula dalam catatan Worobiec (2003: 140), menjelaskan bahwa, dalam seni fotografi yang menggunakan media campuran, ada yang menggunakan cat minyak sebagai media campurannya, hal tersebut tentu akan mengarah kepada perluasan kemungkinan- kemungkinannya, hasilnya akan tampak adanya unsur-unsur seni fotografi dan seni lukis.

Dari keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa, ada pemanfaatan teknik dalam seni lukis, yaitu proses pewarnaan dengan menggunakan kuas untuk seni fotografi khususnya dalam fotografi yang menggunakan media campuran.

Penggunaan Teknik Perekaman Objek dalam Seni Fotografi untuk Seni Lukis

Bidang fotografi memiliki keunggulan dalam proses merekam objek benda terutama dalam kecepatan dan keakuratannya. Soedjono (2006:136) mengemukakan bahwa medium fotografi menawarkan proses penciptaan yang relatif lebih cepat, lebih realistis, faktual, dan disertai dengan detail yang memadai sehingga dianggap lebih tepercaya.

Oleh karena itu, dalam bidang seni lukis, terutama bagi para pelukis realistis/naturalistis, ada yang memanfaatkan kelebihan fotografi untuk merekam objek benda yang akan dilukis, dalam hal ini fotografi
dianggap sebagai alat bantu dalam merencanakan lukisannya. Misalnya, para seniman Renaissance berupaya untuk memudahkan mereka dalam melukis alam dan manusia dengan cara menciptakan suatu aparatus yang disebut camera lucida dan camera obscura. Kedua alat bantu tersebut mendapatkan julukan sebagai an aid in drawing (Soedjono, 2006:50). Rawson (1988-:205) menjelaskan bahwa para seniman lukis pada awal abad ke-19 seperti Delacroix dan Ingres memanfaatkan foto-foto tentang model figur manusia telanjang sebagai alat bantu mereka dalam membuat sketsa-sketsa untuk persiapan lukisan-lukisan mereka agar dapat mendapatkan hasil
yang cermat dan yang sesuai dengan komposisi lukisannya yang melibatkan mo- del-model figur manusia tersebut.

Demikian pula bagi pelukis realistis/naturalistis terkemuka Indonesia, Basoeki Abdullah. Dermawan (1985-:62) menjelaskan bahwa dalam proses berkarya, terutama yang berobjek manusia, ketika sedang melukis potret, Basoeki tidak jarang perlu membuat foto-foto objek yang dilukisnya untuk membantu dalam proses penyelesaian detail lukisannya, di samping ia sendiri menyeket secara langsung model lukisannya. Soedjono (2006-:97) mengemukakan bahwa, para seniman lukis Photorealist dan Superrealist pun seperti Dede Eri Supria, Chuck Clode, Ricard Estees juga bertumpu pada fotografi dalam menciptakan karya- karyanya.

Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa, dalam bidang seni lukis ada upaya untuk mempermudah dan mempercepat proses perekaman objek lukisannya dengan cara memanfaatkan alat bantu dari seni fotografi.

Dalam seni fotografi, dikenal adanya teknik perekaman objek yang dikenal dengan teknik snapshot (pemotretan objek baik manusia ataupun hewan yang dilakukan secara spontan agar hasilnya tampak alamiah atau wajar). Kewajaran objek ketika difoto dengan snapshot tersebut dimanfaatkan dalam seni lukis. Hal tersebut dikemukakan Kusnadi (dalam Maria, 1996:29) bahwa fotografi banyak memberi sumbangan berarti bagi perkembangan seni lukis murni. Misalnya, Edgar Degas yang pada pertengahan abad ke-19 mengakui adanya pengaruh sikap wajar dari hasil foto snapshot. Pelajaran yang bisa dipetik darinya adalah rasa bebas, menggantikan pose-pose yang kaku dan terkesan dibuat-buat dari mashab seni lukis naturalisme sebelumnya. Khususnya mengenai sikap figur manusia dalam lukisan. Sebagai eksponen pelukis terkemuka beraliran impresionisme, Degas ikut memperbarui pemikiran para pelukis pada waktu itu. Karya lukisnya, antara lain merekam pola gerak penari balet mampu mengimajinasikan gerakan-gerakan indah dan wajar.

Penggunaan Teknik Pencahayaan dalam Seni Lukis untuk Seni Fotografi

Salah satu teknik pencahayaan dalam seni fotografi adalah teknik pencahayaan Rembrandt (Rembrandt lighting), yaitu suatu teknik pencahayaan di mana sumber cahaya yang utama diletakkan di belakang model yang difoto berpaling ke samping menunjukkan profilnya kira-kira 130 derajat dari kamera pada ketinggian 45 derajat (dalam Soelarko, 2003: 94). Sebagaimana diketahui, teknik pencahayaan tersebut diambil dari teknik pembuatan kesan pencahayaan atau gelap terang pada objek benda dalam bidang seni lukis yang dilakukan oleh pelukis Rembrandt.

Dari keterangan tersebut, tampak ada pemanfaatan teknik pencahayaan dalam seni lukis, yaitu teknik pencahayaan yang ditemukan dan dilakukan oleh pelukis Rembrandt untuk seni fotografi yang dikenal sebagai teknik pencahayaan window lighting atau Rembrandt lighting. 

Penggunaan Istilah dalam Seni Lukis untuk Seni Fotografi

Sugita (1997: 54) mengemukakan bahwa salah satu teknik cahaya yang digunakan dalam fotografi dikenal dengan istilah teknik painting. Teknik painting tersebut adalah melukis, dalam hal ini menyinari bagian-bagian
tertentu pada objek yang difoto dengan alat semacam light brush. Dalam seni lukis, alat tersebut fungsinya sama dengan kuas. Penggunaan teknik itu sempat menjadi trend di kalangan fotografer, hingga kini. Terutama para fotografer komersial yang lebih menyukai pemotretan still-life.

Dari keterangan tersebut, ada pemakaian istilah dari seni lukis untuk seni fotografi, antara lain yaitu kata painting yang berarti lukisan atau seni lukis, brush berarti kuas yang lazim digunakan dalam seni lukis, yaitu sebagai alat untuk melukis atau to paint.

Penggunaan Istilah dalam Seni Fotografi untuk Seni Lukis

Istilah yang ada dalam seni fotografi dipakai dalam bidang seni lukis, misalnya dalam Pop Art, para pelukis Pop Art ada yang berkarya dengan memunculkan subjek lukisannya menyerupai ketepatan kamera dalam fotografi dalam merekam subjek benda sehingga muncul fotorealisme. Rathus (1989:451) mengemukakan bahwa fotorealisme (photorealism), merupakan pengerjaan atau pelukisan subjek lukisan secara tajam, tepat menyerupai ketajaman dan ketepatan fotografi dalam merekam subjek yang difoto.

Dengan demikian, untuk menunjuk pada karya seni lukis, yang melukiskan subjek lukisannya secara tajam, tepat sebagaimana mata melihat, dapat diistilahkan (dalam hal ini lebih menunjuk pada sifat) sebagai lukisan yang fotografis.

Penggunaan Corak dalam Seni lukis untuk Seni fotografi

Adanya penggunaan corak dalam seni lukis untuk seni fotografi, Leonardi (1997: 52) mengemukakan bahwa dalam dunia seni lukis, misalnya dalam lukisan potret terdapat beberapa corak (style) yang ada, misalnya para bangsawan yang dilukis menginginkan kemewahan tecermin dalam lukisan dirinya maka pelukis akan menampilkan ornamen-ornamen yang menggambarkan kemewahan, sebagai contoh dilakukan oleh seorang pelukis yang hidup pada abad ke- 18, Sir Anthony Van dyck. Berbeda dengan pelukis Rembrandt yang dikenal dengan window lightnya, pelukis yang hidup pada abad ke-17 itu lebih condong untuk melukis situasi yang ada dengan gaya atau corak natural, dan lebih banyak memilih objeknya dari kalangan kaum marjinal. Hingga akhirnya pada abad ke-19 ketika fotografi lahir, corak-corak tersebut turut memengaruhi perkembangan dalam dunia fotografi. Dari penjelasan tersebut, tampak adanya pengambilan corak yang ada dalam seni lukis potret ke dalam seni fotografi potret.

Penggunaan Corak dalam Seni Fotografi untuk Seni Lukis

Penggunaan corak dalam seni fotografi untuk seni lukis, misalnya Soedjono (2006:97) mengemukakan bahwa fotografi juga terbukti memengaruhi corak seni lukis yang nonportraiture, seperti halnya dengan seorang seniman kubistik Marcel Duchamp, dalam karyanya yang terkenal Nude Descending a Staircase tampaknya terkesan dengan eksperimen fotografi Eadweard Muybridge yang menggunakan beberapa seri multiple exposures guna menciptakan suasana gerak pada karyanya. Untuk itu Duchamp melakukannya dengan menggunakan potret dirinya sebagai model yang sedang menapak menuruni tangga yang dituangkannya sebagai lukisan kubistik. Demikian juga halnya dengan para pelukis Pop Art seperti Andy Warhol yang juga memanfaatkan hasil karya fotografi dengan mengombinasikannya dengan teknik cetak saringnya yang terkenal.

Penggunaan Teknik Digital dalam Seni Fotografi untuk Seni Lukis

Kr/Arb (1994:10) mengemukakan bahwa pada fotografi digital, memungkinkan untuk dapat mengolah gambar lebih leluasa, mudah dan cepat, dengan bantuan komputer, sebuah imaji yang di mata manusia tampak sebagai foto, mudah sekali dimanipulasi dan direkayasa. Fotografi digital sangat luwes. Penyesuaian kontras foto, kroping atau bahkan koreksi warna mudah sekali dilakukan dengan komputer tanpa kamar gelap. Saat ini, perangkat lunak (software) seperti Adobe Photoshop, Aldus Photostyler atau juga Fracial Design Painter mudah sekali untuk dipakai membuat penyesuaian- penyesuaian foto apa pun.

Dengan adanya pemanfaatan teknologi digital dalam bidang fotografi yang dikenal dengan istilah foto digital dan olah digital, hal tersebut dimanfaatkan pula oleh sebagian pelukis dalam merencanakan karya lukisnya, baik dalam hal pemilihan, perbaikan maupun pengomposisian objek-objek lukisannya. Hasil dari pengolahan yang masih dalam bentuk data digital tersebut berikutnya dicetak dan hasilnya sebagai rencana lukisan, berikutnya dipindahkan ke dalam seni lukis, yaitu dilukis dengan menggunakan media dan teknik seni lukis.

Penggunaan Sifat Media Seni Lukis untuk Seni Fotografi

Sifat dalam hal ini karakteristik penampakan yang ada pada media pada seni lukis, misalnya cat air pisau palet dan sebagainya ada yang dipergunakan dalam seni fotografi melalui program pengolah foto secara digital. Program tersebut menawarkan fasilitas untuk mengolah foto yang hasilnya seolah-olah tampak seperti sifat atau karakteristik penampakan media yang terdapat pada seni lukis. Misalnya pada Adobe Photoshop 7.0. Dalam program pengolah foto secara digital tersebut disertakan fasilitas yang berfungsi untuk membuat efek artistik foto yang dapat meniru sifat atau karakteristik penampakan media yang terdapat pada seni lukis. Hal tersebut dapat dilihat pada menu filter, artistic yang memunculkan pilihan antara lain peniruan sifat atau karakteristik penampakan media dalam seni lukis, misalnya: watercolor, fresco, underpainting, palltete knife, dan sebagainya.

Penggunaan Media Seni Lukis sebagai Pengawet Karya Seni Fotografi
Maksud penggunaan media seni lukis sebagai sarana pengawet hasil karya seni fotografi dalam tulisan ini adalah manakala fotografer merasa perlu untuk menggunakan media seni lukis untuk menjaga keawetan kualitas karyanya, dengan pertimbangan bahwa, media seni lukis dianggap lebih bertahan. Contoh yang dilakukan oleh Soelarko karena masalah konsistensi warna pada hasil-hasil fotografinya kurang bertahan, maka ia memindahkannya dalam lukisan. Maksudnya, ia melukis berdasarkan foto yang pernah ia buat. Pernyataan Soelarko tersebut dikutip IK (1977:16) bahwa Soelarko sempat kecewa dengan media fotografi, yaitu kertas film, yang tidak abadi. Dalam beberapa tahun saja, kertas foto sudah kuning dan warnanya berubah. Demikian pula film negatifnya. Untuk mengobati kekecewaan, ia memindahkan foto-foto itu ke dalam bentuk lukisan. *Prof. Dr. RM. Soelarko adalah mantan ketua Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia atau FPSI sejak berdirinya tahun 1973 hingga 1991 dan sebagai pelukis.

SIMPULAN

Seni lukis dan seni fotografi merupakan bagian dari seni rupa yang berdimensi dua, fungsi masing-masing ada yang sebagai seni murni dan sebagai seni terapan. Dalam seni lukis, media yang digunakan adalah pigmen atau cat, sedangkan fotografi cahaya. Dalam proses perkembangannya, terdapat pertemuan tentang media dan teknik, istilah, dan corak. Maksudnya, masing-masing saling pengaruh-memengaruhi, saling memanfaatkan kelebihan masing-masing baik dari aspek media dan teknik, istilah maupun corak yang digunakannya. Hal tersebut antara lain berkenaan dengan: Penggunaan media kanvas dalam seni lukis untuk seni fotografi; Penggunaan media cat dalam seni lukis untuk seni fotografi; Penggunaan teknik perekaman objek dalam seni fotografi untuk seni lukis; Penggunaan teknik pencahayaan dalam seni lukis untuk seni fotografi; Penggunaan istilah dalam seni lukis untuk seni fotografi; Penggunaan istilah dalam seni fotografi untuk seni lukis; Penggunaan corak dalam seni lukis untuk seni fotografi; Penggunaan corak dalam seni fotografi untuk seni lukis; Penggunaan teknik digital dalam seni fotografi untuk seni lukis; Penggunaan sifat media seni lukis untuk seni fotografi; Penggunaan media seni lukis sebagai pengawet karya seni fotografi.

DAFTAR RUJUKAN

Adobe Photoshop 7.0. 1990-2002. London: Adobe system Incorporated Kindersley Limited.

Dermawan T. 1994. Kusnadi dan Fotografi, Fotografi Seni Kusnadi, Alam, Budaya dan Lingkungan. Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI.

Dermawan T., Agus. 1985. R. Basoeki Abdullah RA. Duta Seni Lukis Indonesia. Jakarta: Gramedia.

IK. 1997. Figur Para Ketua FPSI, Foto Media Tahun V, No. 3.

Kr/Arb. 1994. Era Fotografi Digital Sebuah Keharusan, Foto Media Taun II, No. 7.

Langford. 1982. The Complette Encyclopaedia of Photography. London: Dorling Kindersley Limited.

Leonardi, Indra. 1997. Studio Style, Foto Media Tahun IV, No. 11.

Maria. 1996. Kusnadi Berupaya Menempatkan Fotografi Sebagai Media Seni, Foto Media Tahun IV, No. 6.

Soedarso Sp. 1988. Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar untuk Aspresiasi Seni. Yogyakarta: Saku Dayar Sana.

Soedjono, Soeprapto. 2006. Pot-Pourri Fotografi. Jakarta: Universitas Trisakti.

Soelarko. (tanpa tahun). Fotografi untuk Nafkah. Bandung: Karya Nusantara.

Soelarko. 1976. Fotografi sebagai Seni. Foto Indonesia: Tahun VI-No. 40, Januari/Februari.

Sugita, Ariadi. 1997. Melukis dengan Cahaya. Foto Media, Nomor IV, No. 9.

Worobiec, Tony & Ray Spence. 2003, Photo Art. New York: Amphoto Books An Imprint of Watson-Guptill Publications.

——————————-

Pertemuan Seni Lukis Dan Seni Fotografi oleh Triyono Widodo telah diterbitkan pada Jurnal BAHASA DAN SENI, Tahun 36, Nomor 1, Februari 2008

sumber

Share.

About Author

Leave A Reply