Apresiasi Dalam Fotografi

0

Sebuah pengantar dalam membaca, memahami, dan mengapresiasi fotografi.
Oleh: Andhika Prasetya

A. FOTOGRAFI
Sejak fotografi ditemukan sekitar tahun 1839 orang menganggap fotografi menjadi dua bagian: sebagai sains-teknologi dan sebagai seni. Menurut literatur terbaru pembagian tipe fotografi diletakkan pada bagaimana suatu karya foto dibuat dan apa fungsi dari karya foto tersebut. Jadi foto seni dibuat untuk tujuan seni, media ekspresi seniman. Pada dasarnya klasifikasi foto seni mengacu pada klasifikasi seni rupa pada umumnya sbb: piktorial-apa adanya-formalistik: foto yang menitikberatkan pada kesempurnaan bentuk dan teknis, simbolis-metafora-penuh makna: foto yang menitikberatkan pada pesan yang ingin disampaikan seniman lewat tanda-obyek yang ditampilkan, ekspresionis: foto yang murni sebagai media ekspresi seniman, foto “suka-suka gue‟.

Akhir-akhir ini unsur-unsur keindahan dan estetika seakan-akan “dilucuti‟ dari setiap karya seni, termasuk fotografi. So, what is art? Aristoteles (384-322 SM) mengatakan: seni itu tiruan keindahan. Thomas Aquinas (1225-1275) menimpali dengan mengatakan: keindahan adalah segala sesuatu yang enak dilihat. Clive Bell (1913) menyatakan seni sebagai significant form, bentuk yang berarti / bermakna. Setiap orang (pelaku seni, termasuk fotografi) dari setiap generasi / jaman mengemukakan definisi-definisinya sendiri yang dianggap sesuai dengan jamannya. Secara umum estetika berhubungan dengan unsurunsur yang sifatnya teratur, well-organized, seimbang, seragam, sehingga membentuk suatu keberaturan. Keindahan sendiri berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman pribadi manusia akan hal-hal yang disebut indah, seperti bentuk, warna, garis, bidang, tekstur, cahaya, dll.

Kita pun begitu, ingin mendefinisikan fotografi sesuai dengan jaman ini, saat ini. Sebenarnya fotografi tidak dibatasi hanya pada estetika keindahan saja. Dalam karya seni, keindahan dapat muncul dari tema maupun tekniknya, namun secara isi keseluruhan bisa jadi tidak indah (the aesthetic of ugliness, estetika ketidakindahan). Dalam jaman / gerakan Posmodern dikenal seni konseptual (1960-an) yang membuang sama sekali proses estetika, sebagai contoh Piero Manzoni yang mengawetkan tinjanya sendiri dan diberi judul “100% Pure Artists Shit” dan R. Mutt yang meletakkan kloset porselen yang dia tandatangani dan dipamerkan di galeri berjudul “Urinal”. Yang pasti, setiap benda yang ingin disebut karya seni haruslah mempresentasikan nilai yang dalam. Seni mewakili ungkapan, seni harus mengungkapkan makna, seperti kata Roland Barthes: dari denotasi (apa yang tampak, yang bisa dideskripsikan) menuju konotasi (makna, nilai atau arti yang dalam). Contoh: foto setangkai bunga di dalam vas berdenotasi foto still life sekuntum bunga dalam vas, tetapi bisa berkonotasi damai, ketenangan, atau keindahan dalam kesederhanaan.

B. DESKRIPSI
Terlepas dari tipenya, suatu karya foto harus diapresiasi dengan cara dideskripsikan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya yaitu:

1. Obyek foto (subject matter): orang, benda, tempat, atau kejadian yang ada dalam foto tersebut, serta menyebutkan karakter obyek-obyek tersebut, misal: gedung tinggi yang monumental, anak-anak yang sedang berlari riang gembira, dsb.
2. Bentuk dan teknis (form): unsur-unsur yang menyusun, mengatur, dan membangun foto sbb: titik, garis, bidang, bentuk, cahaya, warna, tekstur, massa, ruang, dan volume. Deskripsi dapat berupa tinjauan pada: rentang nada warna / hitam-putih, kontras obyek, kontras film / negative, kontras kertas, format film, sudut pandang, jarak obyek, lensa yang dipakai, pembingkaian, ruang tajam, tingkat ketajaman fokus, ketajaman butiran, dsb. Deskripsi bentuk dan teknis ini dapat menggunakan prinsip-prinsip desain seperti: skala, proporsi, kesatuan dalam keragaman, irama dan repetisi, keseimbangan, arah gaya, penekanan, dan sesuatu yang menghubungkan unsur-unsur tersebut.
3. Media (medium): terbuat dari apa karya foto tersebut, misal: sebuah foto monokrom dibuat dengan film ISO 100, kertas foto Multigrade, dengan proses lanjutan toning atau manipulasi kamar gelap atau komputer, dsb. Deskripsi media dapat mencakup unsur teknis seperti posisi penyinaran, alat bantu pemotretan, waktu pemotretan, dsb. Deskripasi media mencakup semua aspek yang ikut membangun terciptanya ekspresi si seniman pada karya foto serta dampak yang timbul bagi pelihatnya.
4. Gaya (style): adalah menyangkut spirit jaman (zeitgeist), gerakan seni, periode waktu, dan faktor geografi, yang mempengaruhi seniman dalam membuat karya foto, yang bisa dikenali dari obyek foto, teknis pemotretan, dan media foto. Setiap karya layak untuk dideskripsi dan diinterpretasi dengan baik, bagaimanapun bentuknya. Deskripsi adalah bagian penting dalam apresiasi, tetapi perlu diingat bahwa dalam mendeskripsi kita tidak menyanjung atau menjelekkan, bukan setuju atau tidak setuju, bukan suka atau tidak suka.

C. Kategori Fotografi
Dari masa ke masa orang membuat kategori fotografi berdasarkan obyek (subject matter) atau bentuknya (form), tetapi dalam perkembangannya sebagai salah satu media komunikasi visual, dirasa perlu membuat suatu kategori baru yang dapat mengakomodasi setiap jenis foto yang ada / dibuat. Kategori yang dibuat harus mencakup seluruh jenis fotografi dari mulai foto seni atau non-seni, foto dokumentasi keluarga sampai foto yang dipamerkan di museum atau galeri. Penggolongan suatu foto ke dalam suatu kategori diperlukan suatu interpretasi awal. Kedudukan foto dalam suatu kategori sangat penting dalam rangka membaca atau menginterpretasi foto tersebut lebih lanjut dalam konteksnya. Kategori baru ini diklasifikasi berdasar pada bagaimana suatu karya foto dibuat dan apa fungsi dari karya foto tersebut (Barret, Terry, 2000, p.54). Menurut Barret kategori fotografi adalah sbb:

C.1. Foto deskriptif (descriptive photographs).
Foto-foto yang termasuk dalam kategori ini adalah foto identitas diri (pasfoto), foto medis atau klinis (foto sinar-x), fotomikrografi (foto hasil pengamatan suatu obyek dari mikroskop), foto eksplorasi kebumian dan angkasa luar, foto pengintaian (kepolisian dan militer / penegak hukum), foto reproduksi benda seni / lukisan, dsb. Foto-foto jenis ini secara akurat menggambarkan benda (subject matter) yang direpresentasikannya. Contoh foto karya Daniel H. Gould (1971) yang menggambarkan partikel virus penyebab kanker di bawah mikroskop dengan perbesaran 52.000 kali (lampiran foto A, foto 5). Foto seperti ini memungkinkan dokter melakukan studi atas mekanisme pembentukan penyakit kanker dan menemukan terapi atau pencegahan yang tepat atas penyakit tersebut.
C.2. Foto yang menjelaskan sesuatu (explanatory photographs).
Foto jenis ini memiliki sifat menjelaskan suatu fenomena, kejadian, yang dapat menjadi bukti visual dari suatu teori ilmiah, baik ilmu fisik maupun ilmu sosial (sosiologi visual dan antropologi visual). Foto-foto yang termasuk dalam kategori ini biasanya menunjukkan tempat dan waktu spesifik yang dapat menjadi bukti visual yang dapat dilacak kebenarannya, foto-foto bidang jurnalistik contohnya. Foto-foto editorial yang direproduksi ke dalam majalah, buku, surat kabar, dan media cetak lainnya juga masuk dalam kategori ini. Untuk dapat masuk dalam kategori ini suatu foto harus menunjukkan penjelasan visual yang dapat diverifikasi dalam disiplin ilmu tertentu oleh seorang pakar dalam ilmu tersebut. Foto karya Harold Edgerton yang menggambarkan foto dirinya memegang balon yang meletus ditembus peluru menunjukkan sifat lintasan proyektil peluru ketika ditembakkan. Dengan foto seperti ini dapat diverifikasi (oleh ahli fisika) bahwa proyektil peluru memiliki kecepatan 15.000 mil/jam dan ketika menumbuk suatu benda keras proyektil peluru dapat pecah menjadi fragmen-fragmen. Foto karya fotografer selebritis Annie Leibovitz yang menggambarkan (montase) proses berkarya seniman Keith Haring (1986) dapat masuk dalam kategori ini. Pada tahun 1973 Bill Owens menerbitkan buku kumpulan fotonya Suburbia, yang mendokumentasikan kehidupan orang Amerika yang tinggal di pinggiran kota California. Foto-foto sosiologi-budaya-antropologi ala Mary Ellen Mark dan Nan Goldin juga termasuk dalam kategori ini.
C.3. Foto interpretasi (interpretive photographs).
Tidak seperti foto ilmiah yang sangat obyektif, foto interpretasi lebih bersifat simbolik, puitik,
fiksi, dramatik dan diinterpretasi secara subyektif-personal. Foto-foto dengan gaya surealis, foto montase dan kolase, foto dengan pencahayaan ganda (multiple exposures) ala Jerry Uelsmann masuk dalam kategori ini. Foto-foto mixed-media (fotografi dengan lukis / ilustrasi) dan apa yang kita kenal dengan foto kotemporer umumnya juga masuk dalam kategori ini (karya Rimma Gerlovina). Foto interpretasi pada umumnya „dibuat’ (making photographs) bersifat hasil kreasi (expansive moments) dan bukan „diambil‟ (taking photographs) seperti halnya foto candid atau menemukan momen seperti foto dokumenterjurnalistik (decisive moments).
C.4. Foto etik (ethically evaluative photographs).
Kategori ini memuat foto-foto yang memuat aspek-aspek sosial kemasya-rakatan yang harus dinilai secara etik. Foto-foto tentang perang dan akibatnya (masalah pengungsi, imigran, dll.), penyakit menular yang mematikan (AIDS, SARS, dll.), wabah dan kelaparan, kehidupan kelas bawah (pengemis, anak jalanan, dll.), ketergantungan narkoba, isu-isu etnikagama ras seperti karya Carrie Mae Weems, serta perusakan lingkungan, masuk dalam kategori ini. Iklan politik dan propaganda pemerintah serta iklan komersial (baik produk maupun jasa) juga masuk dalam kategori ini. Foto-foto etik ini umumnya juga membawa misi meningkatkan hubungan kemasyarakatan yang dibangun dari kesadaran dan kepedulian akan perbedaan (kelas) sosial. Selain menggambarkan kepincangan sosial, fotofoto etik ini bisa saja menggambarkan sesuatu yang positif, misalnya potret tokoh wanita yang inspirasional (seperti Indira Gandhi, Margaret Tatcher, dll). Kategori ini juga mengakomodasi foto-foto yang menggambarkan kehidupan masyarakat dalam suatu sistem ekonomi-politik tertentu (kapitalis-liberal, sosialis-marxis, dll.).
C.5. Foto estetik (aesthetically evaluative photographs).
Kategori ini mencakup karya foto yang biasa kita sebut „foto seni‟, foto-foto yang memerlukan tinjauan dan kontemplasi estetik. Foto-foto ini adalah tentang benda sebagai obyek estetik yang difoto dengan cara estetik. Umumnya foto-foto nude tentang studi bentuk tubuh manusia, foto-foto lansekap (alam, kota, atau gabungan bangunan dengan alam) ala Ansel Adams, foto still life, foto jalanan (street photography) ala Henri CartierBresson, foto mosaik, foto eksperimental kamar gelap (alternative processes), masuk dalam kategori ini. Dibandingkan dengan kategori lainnya, foto estetik lebih mengeksplorasi bentuk (form) dan media (medium) daripada obyeknya (subject matter) sendiri (karya Jock Struges dan karya John Coplans). Obyek foto boleh jadi tidak indah seperti contoh foto Richard Misrach yang menggambarkan sapi-sapi yang mati di pinggir jalan bersalju.
C.6. Foto teori (theoretical photographs).
Kategori ini mencakup foto tentang fotografi, foto tentang seni dan pembuatan karya seni, politik seni, foto tentang film, model representasi, dan teori-teori tentang fotografi. Foto teori ini dapat berupa kritik seni atau kritik fotografi secara visual yang menggunakan media foto sebagai pengganti kata-kata. Foto jenis ini biasanya menjadi semacam reproduksi dari suatu karya seni. Apa yang kita kenal sebagai seni konseptual serta fotografi konseptual masuk dalam kategori ini seperti karya Zeke Berman dan Sarah Charlesworth. Memang tidak mudah memasukkan suatu foto ke dalam kategori-kategori tersebut di atas. Suatu foto bisa saja berada dalam interseksi dua kategori. Dalam menginterpretasi awal diperlukan pemahaman tentang apa isi dan maksud dari suatu foto sebagai argumen dasar pengkategorian. Bagaimanapun juga hal ini membuka argumen balik dan memberi ruang untuk diskusi lebih lanjut tentang interpretasi yang lebih kontekstual.

D. INTERPRETASI
Jika kita membahas foto sebagai penangkap waktu, kita berurusan dengan tiga jenis foto: 1. Foto dengan waktu mengambang, waktu seolah-olah berhenti, bisa kapan saja, contoh: foto lansekap, still life. atau potret, 2. Foto dengan waktu puncak atau sering disebut decisive moment, instant, tak terulang, ala Cartier-Bresson, 3. Foto dengan waktu acak, sebelum atau sesudah waktu puncak, foto sepintas lalu dari kehidupan sehari-hari yang seolah-olah dibuat dengan seram- pangan, ambigu (bermakna ganda), dan secara komposisi klasik tidak seimbang. Foto jenis ketiga ini diperkenalkan oleh Robert Frank tahun 1959 sebagai konsep baru dari “waktu yang tepat‟ itu. Frank menganggap decisive moment tidak secara jujur menggambarkan realitas dunia, dan itu bukan cara „melihat‟ dunia yang normal, menyatakan: “The world moves rapidly and it’s not necessary in perfect images”. Foto jenis ini dapat dikenali selain dari waktunya yang “tidak pas‟, dapat juga dikenali dari komposisinya yang agak serampangan, beberapa obyek bergerak blur, sama sekali tidak fokus, atau foto orang dengan kepala terpotong obyek lain atau terpotong bidang gambar. “It takes a pro to capture another pro” demikian bunyi sebuah iklan kamera terkenal. Memang diperlukan orang yang “jeli‟ untuk bisa mengenali foto dengan konsep waktu acak ini dari foto yang memang asal-asalan saja.

Karya foto sangat dipengaruhi oleh paham atau mazhab yang dianut pemotretnya, dan ini bisa menjadi faktor eksternal si seniman. Sebastiao Salgado, penerima anugerah Eugene Smith Grant untuk fotografi humanisme, terkenal akan karya esai fotonya yang bertema kemiskinan dan getirnya kehidupan dalam Workers dan An Uncertain Grace, adalah penganut faham Marxisme. Jadi dalam menginterpretasi foto-foto Salgado akan lebih “pas‟ kiranya kalau kita mengerti apa itu Marxisme. Paul Strand (1890-1976) dianggap sebagai salah satu fotografer penting dan berpengaruh dalam abad ini. Kumpulan karyanya yang dibuat sekitar tahun 1916, Paul Strand, Circa 1916, dianggap sebagai prestasinya yang paling dramatis, justru setelah dipamerkan di The Metropolitan Museum of Art, New York, pada bulan Februari 1998. Kajian atau apresiasi formal pada karya-karyanya biasanya membahas pergeseran gaya realis-piktorial menuju gaya abstraksi. Sedangkan kajian sosial budaya biasanya membahas pengaruh pemikiran seorang reformis sosial Lewis Hine pada Strand yang mulai menyerap pemikiran-pemikiran baru seniman avant garde Eropa dalam konteks budaya yang kompleks waktu itu. Penganut fungsionalisme di manapun hampir pasti dipengaruhi oleh mazhab Bauhaus yang dicanangkan oleh Walter Gropius dan Mies van der Rohe di Dessau, Jerman, tahun 1925, yaitu form follows function. Man Ray (bernama asli Immanuel Radinsky) dan Laszlo Moholy-Nagy yang suka “main-main‟ dengan fotogram (yang menganggap fotografi tidak harus menggunakan kamera) dengan gaya abstrak adalah beberapa orang yang membawa pengaruh fungsionalisme Jerman ke Amerika dalam fotografi. Contoh lain adalah karya Edmund Teske “Greetings from San Francisco”, 1971, yang memproyeksikan selembar kartu pos dengan foto suasana China Town di San Francisco karya John H. Atkinson Jr. di selembar kertas foto. Jadi imaji / citra dalam suatu karya seni/fotografi dapat “meminjam‟ hasil karya orang lain, tidak perlu karya sendiri. Jika bicara masalah “pinjam-meminjam‟ imaji ini tidak ada yang seheboh karya bapak Pop Art: Andi Warhol dengan “Campbell‟s Soup Cans‟ dan wajah Marilyn Monroe-nya, atau seniman Jepang, Yoshimasa Yorimura yang pernah pameran keliling di Indonesia.

Menginterpretasi karya seni adalah menganalisis setiap aspek deskriptif dan mencari hubungan yang bermakna dari setiap aspek tadi. Interpretasi adalah mencari maksud, nada, rasa, dan nuansa dari sebuah karya seni. Interpretasi sangat bergantung dari dua sisi: pengalaman empiris pelihat dan intensi/maksud si seniman yang disampaikan selain lewat unsur visual juga lewat judul yang dicantumkan. Beberapa sudut pandang dalam menginterpretasi antara lain: siapa senimannya, kapan karya dibuat, terbuat dari apa karya tersebut, bagaimana karya dibuat, dan untuk tujuan apa karya dibuat. Fotografi tidak bisa berdiri sendiri, dalam menginterpretasi karya foto kita (perlu) dibantu oleh ilmu-ilmu lain: sejarah dan biografi, filsafat-teologi-religi, sosial-budaya, teori komunikasi, etika, estetika, psikologi persepsi, psikoanalisa, semiotik, hermeneutik, fisionomi, juga ekonomi. Contohnya: interpretasi berdasar Marxisme biasanya akan berpijak pada realitas sosial sebagai manifestasi dari perkembangan dan sejarah sosial di mana si fotografer atau obyek fotonya berada, interpretasi berdasar pengaruh penggayaan (style) dapat membandingkan dengan karya seniman lain yang sejenis atau dalam gaya yang sama, interpretasi berdasar teknik dapat berpijak dari pertanyaan: “Bagaimana karya ini dibuat?”, interpretasi berdasar biografi dapat berpijak dari pertanyaan: “Mengapa si fotografer membuat karya sejenis ini (misal ekspresionis, bukan jenis lain)?”, atau kita dapat menginterpretasi dengan menggabungkan beberapa pendekatan di atas. Tidak masalah kita menggunakan dasar interpretasi apa, yang penting kita tahu persis memakai dasar apa.

Deskripsi dan interpretasi harus dinyatakan dengan bahasa yang baik dan terstruktur, terutama jika menyangkut rasa dan perasaan. Kita dapat menggunakan dasar pertanyaan: “Apa yang saya rasakan? Mengapa saya merasakan hal ini? Bagian mana dari karya ini yang menggugah perasaan saya: obyeknya, bentuknya, atau medianya?”. Umumnya kita menggunakan istilah-istilah atau kata-kata sifat sebagai berikut: masuk akal, menarik, pencerahan, berwawasan, bermakna, membuka pikiran, asli (original), atau sebaliknya: tidak beralasan, tidak masuk akal (absurd), tidak mungkin, tidak dapat dipercaya, tidak pantas, tidak layak, tidak cocok, tragedi, menyedihkan, menegangkan, mengerikan, dan lain-lain. Ada dua kriteria tentang interpretasi yang baik: 1. Kesesuaian (correspondence) dengan hal-hal yang bisa deskripsi, yang membantu penilaian kita fokus dan terarah pada hal-hal obyektif (apa yang tampak / tampil) pada suatu karya tanpa menjadi terlalu subyektif. Jadi kita harus menganggap setiap karya layak menjadi yang terbaik, karya yang berarti dan bermakna. 2. Masuk akal (coherence), konsisten dan tidak bertentangan dengan hal-hal obyektif pada karya jika pengamat menghubungkan dengan pengalaman pribadinya.

Interpretasi yang “benar‟ dapat masuk akal dan obyektif sejauh berdasar kaidah-kaidah tersebut di atas. Suatu interpretasi bahkan belum tentu “benar‟ meski datang dari si seniman sendiri, karena mungkin si seniman berkarya tanpa intensi (khusus) tertentu alias iseng-iseng saja, atau tidak perduli akan intensinya, dan menyerahkan apresiasi sepenuhnya pada pengamat. Bisa jadi kita sedang berurusan dengan seniman yang bekerja atas dorongan lubuk hati atau pikiran bawah sadarnya (subconciousness), seperti karya-karya Cindy Sherman, Sandy Skoglund, atau surealis ala Jerry Uelsmann. Tetapi satu hal yang jelas, interpretasi yang baik dari seseorang terbuka terhadap interpretasi lain dari orang lain, jadi (mungkin) di sinilah letak subyektivitasnya. Kita mengandaikan bahwa ada banyak orang lain yang sedang menginterpretasi karya ini juga. Tidak ada satu interpretasi yang „sungguh benar‟ karena kita bisa menggunakan dasar interpretasi berbeda. Di sinilah pentingnya peran komunitas fotografi sebagai ajang diskusi, tukar-menukar interpretasi. Seniman akan merasa dihargai karena ada sekelompok orang yang secara konsisten merekonstruksi karyakaryanya, membuatnya lebih matang berkarya.

Kini jelaslah bagi kita: suatu opini atau apresiasi yang tidak berdasar pada ukuran-ukuran yang diuraikan di atas adalah tidak berarti, tidak bermutu, dan tidak berguna. Suatu penilaian atas karya foto yang hanya berdasar rasa suka atau tidak suka, meletakkan penilaian hanya berdasar unsur teknis semata, atau menganggap suatu karya foto (apalagi foto seni) adalah subyektif merupakan penilaian yang dangkal, kerdil, dan tidak bertanggung jawab. Meminjam istilah Oscar Motuloh, diperlukan mata hati dan optis jiwa untuk bisa memahami dan mengapresiasi karya foto, apapapun jenisnya, dengan baik.

Seni ternyata dapat menjadi ekspresif tanpa menjadi representasi semata, tanpa mejadi keindahan “semu‟ yang dangkal, atau tanpa “kemayu‟. Perjalanan berkarya beberapa fotografer seni terkemuka rata-rata memang berangkat dari realis-piktorial, tetapi seiring dengan waktu mereka merasa bahwa mencari sesuatu yang abstrak dari yang nyata riil sungguh suatu tantangan, dan pada pencapaian atau tujuan yang pamungkas, the ultimate purpose, mereka memilih ekspresionis. Penekanannya bukan lagi pada obyek / subject matter, bentuk-teknis, media, atau gayanya, tetapi lebih menyatakan keberartian (significant) dalam setiap apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Bukan realis atau abstraksi lagi, tapi fiksi: mengekspresikan sesuatu yang lebih personal dan subyektif (tetapi ingat: tetap harus diapresiasi secara obyektif!). Bagaimana dengan kita, tidakkah kita ingin bisa membaca, memahami foto, atau berkarya lebih inovatif, lebih “dewasa‟, lebih significant, lebih bermakna? Kata kuncinya adalah OPEN YOUR MIND.

Rujukan:
– Appignannesi, Richard, dan Garrat, Chris, “Mengenal Posmodernisme (for Beginners)”, Penerbit Mizan, Bandung, 1998.
– Barret, Terry, “Criticizing Photographs, An Introduction to Understanding Images” , Mayfield Publishing Co., California, 2000.
– Editors of Time Life Encyclopedia, “The Art of Photography”, Time Inc., 1973.
– Goldberg, Vicki, “Photography in Print, Writings From 1816 to The Present”, Simon and Schuster, New York, 1981.
– Sumardjo, Jakob, “Filsafat Seni”, Penerbit ITB, Bandung, 2000.
– Sutrisno, FX. Mudji, “Kisi-kisi Estetika”, Penerbit Kanisisus, Yogyakarta, 2000.
– Sutrisno, FX. Mudji, dan Verhaak, Christ, SJ. Prof. Dr., “Estetika Filsafat Keindahan”, Penerbit Kanisisus, Yogyakarta, 2001.

“APRESIASI DALAM FOTOGRAFI Sebuah pengantar dalam membaca, memahami, dan mengapresiasi fotografi” oleh Andhika Prasetya

Share.

About Author

Leave A Reply